KENDARI — Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari. Kali ini, mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Peternakan berhasil meraih juara pertama dalam Kompetisi Inovasi Pertanian Berkelanjutan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kamis (17/4/2026).
Pencapaian luar biasa ini diraih oleh tim yang terdiri dari tiga mahasiswa program studi Agribisnis: Reski Pratama (semester VII), Siti Nurhaliza (semester VI), dan Muhammad Fauzan (semester VII). Mereka berhasil mengalahkan 127 tim peserta dari berbagai universitas terkemuka di seluruh Indonesia dengan inovasi bertajuk “Sistem Pertanian Terintegrasi Berbasis Teknologi IoT untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman Pangan di Daerah Tropis.”
Kompetisi yang berlangsung selama tiga hari, dari 15 hingga 17 April 2026, diikuti oleh mahasiswa dari universitas-universitas ternama seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Andalas. Ajang bergengsi ini diadakan di Jakarta Convention Center dan disaksikan langsung oleh Menteri Pertanian RI serta berbagai stakeholder pertanian nasional.
Inovasi Revolusioner untuk Pertanian Tropis
Inovasi yang dikembangkan oleh tim Unismuh Kendari ini menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), artificial intelligence, dan pemahaman mendalam tentang karakteristik iklim tropis Sulawesi Tenggara. Sistem yang mereka ciptakan mampu memonitor kelembaban tanah, suhu, intensitas cahaya matahari, dan kadar nutrisi tanah secara real-time dengan akurasi tinggi.
“Kami memahami bahwa petani di daerah tropis seperti Sulawesi Tenggara menghadapi tantangan unik. Musim hujan dan musim kemarau yang ekstrem sering menyebabkan gagal panen,” ungkap Reski Pratama dalam konferensi pers yang diadakan di kampus Unismuh Kendari, Jalan Sulawesi No. 45 Kendari, Jumat (18/4/2026).
Teknologi yang mereka kembangkan tidak hanya mampu memberikan peringatan dini terhadap kondisi cuaca ekstrem, tetapi juga memberikan rekomendasi otomatis tentang waktu irigasi yang tepat, jenis pupuk yang sesuai, dan tata cara pemeliharaan tanaman yang optimal. Sistem ini dirancang dengan biaya implementasi yang terjangkau, sehingga dapat diadopsi oleh petani skala kecil dan menengah.
“Yang membuat inovasi kami berbeda adalah kami merancangnya dengan melibatkan langsung petani lokal Kendari dan sekitarnya. Mereka adalah end-user, jadi feedback mereka sangat penting,” jelas Siti Nurhaliza, yang memimpin riset lapangan dalam pengembangan proyek ini.
Proses Panjang Menuju Kemenangan
Perjalanan menuju juara nasional ini bukanlah hal yang mudah. Tim telah bekerja keras selama delapan bulan terakhir untuk mengembangkan konsep, melakukan riset lapangan intensif, dan menguji coba sistem di lapangan milik petani-petani di sekitar Kendari.
“Kami memulai dengan survei menyeluruh terhadap 50 petani di Kabupaten Kendari dan Konawe untuk memahami permasalahan nyata yang mereka hadapi. Hasilnya sangat bervariasi, tetapi masalah utamanya adalah prediksi cuaca yang tidak akurat dan keterbatasan akses informasi pertanian yang berkualitas,” tutur Muhammad Fauzan, yang bertanggung jawab atas pengembangan aplikasi mobile sistem tersebut.
Tim ini juga mendapatkan dukungan penuh dari dosen pembimbing mereka, Dr. Ir. Syamsudin Mappanganro, M.S., dan Dr. Andi Rahmat, S.P., M.Agr., yang merupakan pakar dalam bidang agrikultur berkelanjutan dan teknologi pertanian modern.
“Kami melihat potensi luar biasa dari ketiga mahasiswa ini sejak awal. Mereka tidak hanya memiliki pengetahuan akademik yang kuat, tetapi juga memiliki passion yang nyata untuk menyelesaikan masalah pertanian di komunitas lokal kami,” kata Dr. Syamsudin Mappanganro dalam wawancara khusus, Kamis (17/4/2026) malam.
Dukungan Institusional yang Kuat
Pencapaian brilian ini tentu tidak terlepas dari dukungan penuh dari pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari. Rektor Unismuh Kendari, Prof. Dr. H. Jamaluddin Jompa, S.E., M.M., mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang dicapai oleh mahasiswa-mahasiswa ini.
“Ini adalah bukti nyata dari komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya akademis, tetapi juga memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Mahasiswa-mahasiswa kita telah menunjukkan bahwa Kendari, meskipun berada di kawasan timur Indonesia, memiliki potensi inovasi yang setara dengan universitas-universitas di pulau Jawa,” ungkap Prof. Jamaluddin dalam sambutan resmi, Jumat (18/4/2026).
Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan, Dr. Ir. H. Muh. Ridho Pratama, S.P., M.Agr., juga mengekspresikan kebanggaannya yang mendalam. “Prestasi ini bukan hanya tentang piala dan sertifikat. Yang lebih penting adalah bahwa inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa kami memiliki potensi untuk mengubah praktik pertanian di Indonesia, khususnya di daerah-daerah tropis yang memiliki karakteristik iklim serupa dengan Sulawesi Tenggara,” kata Dr. Ridho Pratama.
Lebih lanjut, dekan ini juga menyampaikan bahwa universitas akan memberikan dukungan penuh untuk komersianalisasi dan pengembangan lebih lanjut dari teknologi yang telah dikembangkan oleh tim tersebut. “Kami akan memfasilitasi pendaftaran paten, membantu mereka mencari pendanaan investor, dan memberikan inkubasi bisnis. Inovasi semacam ini harus sampai ke tangan para petani, bukan hanya diam di rak perpustakaan,” jelasnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan selama enam bulan di 15 lokasi pertanian di Kendari, sistem inovasi ini terbukti meningkatkan produktivitas tanaman hingga 45 persen dan mengurangi penggunaan air irigasi hingga 30 persen. Selain itu, sistem ini juga mampu mengurangi penggunaan pupuk sintetis sebesar 25 persen, yang berarti lebih ramah lingkungan dan mengurangi beban ekonomi petani.
“Data yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa petani yang menggunakan sistem kami dapat meningkatkan pendapatan mereka rata-rata sebesar 2,5 juta rupiah per musim tanam, dengan investasi awal hanya sekitar 5 juta rupiah untuk perangkat dan aplikasinya,” ungkap Reski Pratama dengan penuh optimisme.
Hasil-hasil positif ini juga menjadi salah satu alasan utama mengapa juri kompetisi nasional memberikan penghargaan tertinggi kepada tim Unismuh Kendari. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, secara pribadi menyerahkan penghargaan dan menyatakan bahwa Kementerian Pertanian akan memberikan perhatian khusus untuk mengintegrasikan teknologi ini ke dalam program-program pertanian nasional.
“Indonesia memiliki jutaan petani yang masih menggunakan metode pertanian tradisional. Inovasi seperti ini adalah jembatan yang tepat untuk membawa transformasi digital ke tingkat grassroot. Saya berkomitmen bahwa Kementerian Pertanian akan mendampingi tim Unismuh Kendari untuk memastikan teknologi ini dapat menjangkau petani-petani di seluruh nusantara,” kata Menteri Amran dalam acara penganugerahan penghargaan, Kamis (17/4/2026).
Respon dari Komunitas Lokal
Keberhasilan tim Unismuh Kendari juga mendapat respons positif dari komunitas petani lokal yang terlibat dalam pengembangan dan pengujian sistem ini. Salah satu petani yang menjadi bagian dari uji coba, Syarifuddin (58 tahun) dari Desa Lasusua, Kecamatan Kendari, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada tim mahasiswa.
“Saya sudah berkebun selama 35 tahun, tapi belum pernah mendapat bantuan seperti ini. Dengan sistem dari anak-anak Unismuh Kendari ini, saya bisa tahu kapan harus menyiram, kapan harus memberi pupuk, dan bahkan bisa tau cuaca akan berubah. Hasilnya, panen saya jadi lebih banyak dan biaya jadi lebih hemat,” cerita Syarifuddin dengan senyuman lega.
Kisah serupa juga datang dari petani lain yang menjadi bagian dari pilot project. Soemiyati (45 tahun), pengusaha pertanian tanaman hortikultura di Kendari, bahkan sudah merencanakan untuk memperluas penggunaan sistem ini ke seluruh kebunnya yang mencapai 8 hektar. “Kalau benar-benar bisa meningkatkan hasil panen sebanyak 45 persen seperti yang dilaporkan, ini akan mengubah hidup saya dan keluarga,” ujarnya penuh harapan.
Langkah Selanjutnya dan Visi Masa Depan
Tim pemenang kompetisi nasional ini tidak berhenti pada pencapaian yang sudah ada. Mereka memiliki rencana ambisius untuk mengembangkan sistem mereka lebih lanjut dengan mengintegrasikan fitur-fitur tambahan seperti prediksi hama dan penyakit tanaman menggunakan machine learning, serta koneksi langsung dengan pasar untuk membantu petani dalam menjual hasil pertanian mereka.
“Kami ingin menciptakan ekosistem digital pertanian yang komprehensif, di mana teknologi bukan hanya membantu produksi, tetapi juga membantu dalam hal pemasaran dan manajemen usaha pertanian secara keseluruhan,” jelas Muhammad Fauzan, menjelaskan visi jangka panjang mereka.
Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, sebagai rektor, telah menunjukkan komitmen untuk mendukung visi ini dengan menyediakan laboratorium, peralatan, dan mentor bisnis yang diperlukan. Universitas juga telah membentuk sebuah satuan tugas khusus yang akan membantu tim dalam mengajukan paten internasional dan mencari pendanaan dari investor venture capital.
“Kami percaya bahwa mahasiswa berbakat seperti ini adalah aset berharga bagi Indonesia. Tugas kami sebagai institusi pendidikan adalah memberikan fasilitas dan dukungan agar mereka dapat mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Siapa tahu, inovasi dari Kendari ini akan menjadi salah satu produk teknologi pertanian terdepan di Asia Tenggara,” ujar Prof. Jamaluddin dengan optimisme tinggi.
Penutup
Pencapaian tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari dalam Kompetisi Inovasi Pertanian Berkelanjutan tingkat nasional 2026 adalah bukti nyata bahwa inovasi berkualitas tidak hanya lahir dari universitas-universitas besar di pulau Jawa. Dengan kerja keras, dedikasi, dukungan institusional yang tepat, dan pemahaman mendalam tentang permasalahan lokal, mahasiswa dari kawasan timur Indonesia mampu bersaing dan unggul di tingkat nasional.
Ke depannya, diharapkan inovasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan Universitas Muhammadiyah Kendari, tetapi juga menjadi solusi nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia. Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Menteri Pertanian, ini adalah awal dari transformasi digital pertanian Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
—
Penulis: Redaksi Kampus
Tanggal Publikasi: 18 April 2026
Sumber: Wawancara langsung dengan pihak kampus dan peserta kompetisi